ANALISASULUT.COM, BOLTIM — Selama dua bulan pelaksanaan. Kuliah Kerja Dakwah (KKD), Mahasiswa Kelompok Kerja (Pokja) 1 Institut Agama Islam (IAI) Muhammadiyah Kotamobagu aktif membantu kegiatan pengajian Al-Qur’an di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Nur Hadad, Desa Bongkudai, Kecamatan Modayag Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur Boltim.
Setiap sore, selepas salat Ashar hingga menjelang Magrib, suasana TPA Al-Ikhlas dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur’an. Puluhan anak-anak tampak antusias mengikuti kegiatan mengaji yang dilaksanakan rutin dari Hari Senin hingga Kamis. Mahasiswa KKD berperan sebagai pendamping belajar, sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak dan etika Islam kepada para santri.
Salah satu pengajar TPA Nur Hadad atau yang akrab disapa Ustaz Jajul, menegaskan bahwa pengajian ini merupakan bagian dari upaya pembentukan karakter sejak dini.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya lancar membaca Al-Qur’an, tetapi juga tumbuh dengan akhlak yang baik dan kecintaan terhadap agama,” ujarnya.
Namun, semangat tersebut masih berhadapan dengan keterbatasan fasilitas. Ruang belajar yang sempit dan perlengkapan mengaji yang minim menjadi tantangan utama dalam proses belajar-mengajar. Kondisi ini dinilai belum sebanding dengan jumlah santri yang terus bertambah dari waktu ke waktu.
Sejumlah warga Desa Bongkudai menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa KKD memberikan dampak positif bagi anak-anak, terutama dalam meningkatkan kedisiplinan dan minat mengaji. Meski demikian, warga juga menilai bahwa persoalan fasilitas masih belum mendapatkan perhatian yang memadai.
“Anak-anak sekarang lebih rajin ke TPA, tetapi kondisi tempat belajar masih jauh dari layak. Kami berharap ada dukungan nyata, bukan hanya mengandalkan swadaya masyarakat,” ungkap salah satu warga.
Warga lainnya menambahkan bahwa selama ini keberlangsungan TPA sangat bergantung pada gotong royong dan keikhlasan para pengajar.
“TPA berjalan karena semangat guru dan dukungan warga. Jika tidak ada perhatian dari pihak terkait, sulit untuk berkembang lebih baik,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, antusiasme anak-anak tetap tinggi. Beberapa santri bahkan datang lebih awal untuk mengulang hafalan sebelum kegiatan dimulai. Dukungan orang tua pun terus mengalir karena pengajian dinilai membawa pengaruh positif terhadap perilaku anak-anak.
Warga berharap keterlibatan mahasiswa KKD IAI Muhammadiyah Kotamobagu dapat menjadi pengingat bagi pemerintah desa, lembaga keagamaan, dan pemangku kebijakan lainnya agar lebih serius memperhatikan pendidikan keagamaan di tingkat desa. Penyediaan fasilitas, peningkatan sarana belajar, serta dukungan berkelanjutan bagi pengajar dinilai sebagai kebutuhan mendesak.
Kehadiran mahasiswa KKD di TPA Nur Hadad tidak hanya menjadi bentuk pengabdian akademik, tetapi juga menegaskan bahwa pendidikan Al-Qur’an di akar rumput masih menghadapi persoalan struktural. Tanpa dukungan kebijakan yang berpihak, semangat belajar anak-anak dan dedikasi para pengajar akan terus berhadapan dengan keterbatasan yang sama. ***
Penulis Mohammad Prayoga Eyato

